Selasa, 07 Januari 2014

Rabu, 14 Agustus 2013

Surat ke-8.
Kali ini saya meneruskan kembali, sebuah rekaman dalam perjalanan biasa, yang memang biasa. Surat yang harus tertuju ke kamu. Yang pada intinya memang tidak dibaca, tak apa.
Saya menulis surat ini dan berhenti di surat ke 8 ini. Mengapa tidak dengan 9? Karena 9 begitu sempurna, mungkin menjadi salah satu alasan mengapa menggambar tak ada nilai 10. Saya menjadi sangsi bagi diri (karena cinta yang sempurna, bukan proses eksistensi kita), maka kucukupkan saja di surat ke 8 ini.
Sejenak saya merekam, mengenang dan bertanya "kamu apa kabar? Koran apa yang kamu baca pagi ini?", kata sejarah mulai menggantung hati hati diatas sana, sejarah kita. Sebuah konsep yang menakutkan sekali. Sejarah begitu tampuk dengan istimewa dalam hidup manusia, tetapi tidak melekat utuh pada realitas. Memang hidup seperti ini tidak enak. "Happy is the people without history", kata Dawson dalam Catatan Soe Hok Gie.
Akan tetapi hidup ini cair, semesta ini bergerak, realitas berubah. Hidup akan mengikis apa saja yang diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.
Skenario perjalanan kita mengharuskan saya untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkan ulang dikepala saya sebagai sang kekasih impian, sang tujuan, sang inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kita seperti musafir yang tersesat dipadang pasir yang tandus. Yang berjalan dengan kompas masing masing.
Sesekali kita bertemu, berusaha saling toleransi atas nama cinta dan perjuangan yang tak boleh sia sia, dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa kamu berikan kini. Hingga akhirnya....
Sampai diakhir surat ini, saya yakin kamu paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
Tidak ada sepasang mata mu lagi, yang mampu meyakinkan saya bahwa ini telah usai.
Tidak ada kata, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.
Ketika surat ini tiba dititik yang terakhir, masih akan ada sejumpur kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Entah saya atau kamu yang merasakan.
Sesuatu yang mendamba untuk mengalami.
Saya yang menulis surat dititik akhir ini untuk kamu,
Jumlahnya 8, angka yang bagus, angka yang tak terputus. Termasuk tanggal lahir saya.
Saya menulis surat ini untuk kamu,
Sekumpul surat surat yang tak pernah sampai kamu baca.
Untuk mu, yang kembali dalam independensi mu.

Selasa, 26 Juni 2012

Selasa, 26 Juni 2012

Ciputat yang tak begitu ramah siang ini, klakson angkot angkot, metro mini, bis kota.
Semua nampak menyatu bagai siang tanpa henti.
Saya melihat seluruh manusia disini seakan akan mengangkat matahari, menggendong matahari (begitu panas).
Tak ada yang menghiraukan.
Tapi, bagiku siang ini bagai cahaya yang mulai redup,
Cahaya redup akan skeptis. Entah itu apa.
Yang membuat saya bingung, bagaimana lagi memanfaatkan cahaya kecil itu menjadi cahaya bersama.
Lubang skeptis lah yang membuat itu redup. Padahal jelas bahwa tidak ada gelap, yang ada cuma kurang nya cahaya. Entahlah, saya tidak merasakan apa apa hari ini.

Sabtu, 09 Juni 2012

Sabtu, 09 Juni 2012

Malam ini begitu lelah, GEMPA atau Generasi Muda Petualang Alam baru saja merayakan gebyar milad nya yang ke 7. Padahal yang seharusnya itu bulan april kemarin.
Acara yang baik, walau sederhana, sangat sederhana sekali. Saya ingat ketika para tamu minum lewat galon air, tapi beberapa menit kedepan akhirnya membeli air mineral sedus.
Begitu akrab, tapi saya tak merasakan cinta malam ini, entahlah, saya tak mau ambil pusing. Lagipula saya siapa, anda siapa. Anak raja darimana, sultan darimana anda? Datang dan pergi seenaknya, terlalu banyak yang ditutupi, mungkin juga sedang menipu diri sendiri. Kita memang beda. Lupakan..
Saya berdoa, agar Organisasi GEMPA selalu menjaga keeksistensian nya, bisa bermanfaat bagi sekitar, tanpa ribut hiruk pikuk pergolakan politik lumpur hitam. Ya, yang lain sedang sibuk merayakan pesta dan bingung hendak kemana, tapi kita cukup berani mengambil jalan dan tidak seperti mereka (masyarakat borjuis).
Ada suatu yang patut ditangisi
Aku kira kau pun tahu
Masyarakatmu, masyarakat borjuis
Tiada kebenaran disana
Dan kalian selalu menghindarinya
Aku kira tiada  kasih bahagia disana,
Dan tidak menjadi sangsi bagiku.

Sebab tiada kasih, kebenaran dan keindahan dalam kepalsuan.
Aku bersungguh sungguh !!! Begitu dekat, mesra, tapi sampai kapanpun kosong, kosong ya kosong

Minggu, 03 Juni 2012

Minggu, 3 Juni 2012

Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana Ia muncul dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang orang asing. (HR. Muslim dalam kitab Al-Iman (232) )

Jumat, 1 Juni 2012

aku sedang malas menulis, besok besok lg cerita Bandung bersama Manusia manusia Pemberani nya.

Kamis, 31 Mei 2012

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh teman buruh ku, yaa, perjalanan wisata kita yang kita sebut "Perjalanan manusia manusia berani". Rute kita seharusnya Tanahabang-Jogja, berhubung tiket Jogja harus di pesan jauh jauh hari, maka kita pergilah ke kota Kembang, yaa, Bandung. Kota yg sejuk, tapi kurang kondusif, kenapa?....
Jam 10 kami berangkat menggunakan travel, sebelum berangkat, badan ku sudah tak enak, nafas aga panas, badan pun panas, dan cuaca pun panas ketika itu. Diperjalanan, aku tak banyak bicara, Ardi, Nanda, Abi dan Heru. Kita berlima.
Sampailah kami di Suropati Bandung, sejuk, tapi panas bagiku (badan yg tak enak), entah apa tujuan kita yg harus pertama kita lakukan, makan, karna kita sangat kelaparan. Kita berjalan lah, berjarak hampir 300 meter, sampailah pada tempat warung nasi, ahh segar sekali. Banyak pohon, kami makan lah disana, aku memesan Gado gado, dg sok sokan Sunda ku yg sotoy, "Bu, Gado gado na hiji aja", eeh apa ini.
Selesai makan aku membuka pembicaraan dg si ibu ibu pemilik nasi ini (dg bahasa indonesia), dia katakan bahwa besok hari yg rame (jumat), banyak bazar dimana mana, dan banyak perempuan juga (yeaah). Dia menyarankan untuk menyewa kosan saja, 2 atau 3 hari kedepan. Oke kita berangkat lagi dengan jalan kaki, perjalanan pertama, sejuk, pohon yg besar. Sampailah di gang, kita masuk untuk mencari kosan, dan nihil, semua penuh. Lalu kita berjalan lagi, sampailah pada tukang yg berjualan slayer batik, kita ramai sekali disana, kita berlima membeli slayer tersebut, aku dg tudung khas Bali, ahh mengasyikan sekali, becanda dg tukang nya. Kita berfoto pula di belakang gedung sate, tempat para pejabat sibuk yg memikirkan "istri istriku besok harus keluar negeri untuk membeli make up".
Kita berjalan lagi, instruksi dari tukang slayer (dan ternyata penikmat metal juga), bahwa ada tempat kosan yg murah deket stasiun. Akhirnya kita berlima jalan kaki dengan memakai tudung slayer batik yg kita pakai dikepala, waah kita menjadi sosok perhatian akan tudung slayer yg kita pakai, entahlah, yg jelas kami bangga. Dan hujan pun turun, besar. kita duduk sambil berisitirahat di tempat yg teduh.
Waktu menunjukan jam 4, akhirnya kita menaiki angkot untuk sampai ke stasiun, sampailah di stasiun, wajah wajah preman preman kudisan yg tidak bersahabat banyak disana. Perasaanku tak enak, kita kembali lagi, dan dugaan ku benar, disitu tempat prostitusi (jauh jauh amat, Tangsel jg banyak).Telpon lah teman yg kuliah disana, dia bilang, tak apa pakai aja tempat asrama nya. Menarik kan, akhirnya kita lekas kembali (tepatnya dago), tak henti disana angkot, kita berjalan lagi, jauh sekali kedalam nya, aku melihat muka muka teman ku yg cukup kelelahan (aku jg padahal). Sampailah di gang prapatan, kukira sampai ternyata masuk lagi kedalam, yaa, kita berjalan lagi, begitu lelah (karna sempat tersesat). Dan akhirnya sampai lah di asrama teman, kita masuk kedalam, aku katakan bahwa kami dari Tangerang (Banten), atas nama teman kami yg tinggal disini (malup, temanku yg kuliah disini tapi sedang tidak diasrama, melainkan di Rumahnya). Kami disambut penuh dg ramah, kami diberi kamar, begitu rapih, ahh sejuk sekali (sehabis hujan).
Tak ada yg banyak kami lakukan, selain istirahat, setelah ba'da maghrib kami ngaji Yasinan, karna malem itu malam jumat, dan kita berkenalan dg penghuni asrama disana, baik, tapi ada aja yg sengak.

Rabu, 30 Mei 2012

Rabu, 30 Mei 2012

Apakah keadilan itu sebagian dari nafsu? Lalu apakah emosi itu tak pantas meski untuk apa yang sepantasnya? Dimanakah kebenaran yang hakiki? Apa memang benar kebenaran itu cuma hanya dilangit?
Banyak kejadian menarik akhir akhir ini, tapi aku malas menulis. Sekarang kebanyakan kaum intelektual telah menjadi teknorat alias sekrup sekrup dalam roda pemerintahan (ingin cepat kaya mungkin). Kaum intelektual dipergunakan lagi hanya untuk menjadi tameng. Ternyatalah, pemerintah memang berusaha memagar dirinya dengan argumentasi intelektual. Dan bahkan untuk calon calon intelektual saja pun sama, masih terlalu mementingkan golongan nya masing masing. Ahh, begitu tragis kehidupan masa pendek ini. Entah kebenaran itu akan turun dari langit apa hanya memang dilangit.
Tadi sore ke tempat travel untuk membeli tiket ke bandung (harusnya ke Jogja, tapi tiketnya abis). Ada perempuan kecil menjual donat donat nya, dia meminta aku untuk membeli donatnya untuk membeli peralatan sekolahnya. Aku katakan berapa harganya, dia menjawab 20ribu untuk satu paket (isinya dua). Padahal uangku cuma 50ribu (untuk membeli tiket), ku pegang sambil mengelus kepalanya, kuberikan semua uangku (sisa seribu), tapi, berpuluh puluh kilometer dari kejadian sore puitis tadi, di istana sana, gedung rakyat sana. Mau apa tinggal bilang, hap 5menit jadi. Tanpa memasukkan mereka (perempuan kecil tadi) di sidang kabinet mereka, tidak masuk dalam agenda tahunan, tidak masuk dalam dana pemerintahan. Maysarakat yg Borjuis, konsumtif dan gengsi. Ini lah Indonesia riwayat mu kini, "konon" bangsa yg berbudaya, wunduh pahing pakarti., cuma menjadi bangsa yg lupa. Aku bersamamu, orang orang malang.
Sesampai dirumah ku makan donat nya sudah basi, tapi kumakan saja. Aku mules sampai saat ini. Besok ku ke Bandung, insya Allah aku buat tulisan nya nanti.